Budaya Kita Adalah Budaya yang dibangun di atas fondasi kekeluargaan, kebersamaan dan gotong-royong. Sungguh sangat disayangkan bila fondasi itu terlupakan dan kita membangun infrastruktur yang mewah, apik, tetapi atas landasan keserakahan dan kepentingan diri di atas segalanya.

Semoga tidak demikian…

Jika terjadi perselisihan pendapat, yang bisa saja terjadi – bahkan dalam satu keluarga, di antara dua saudara kandung pun bisa terjadi – maka, leluhur kita menciptakan instansi-instansi seperti Rukun Tetangga, Rukun Warga, Kelurahan, Banjar, Forum Suka-Duka dan sebagainya.

Jika Sebuah Perkara tidak terselesaikan secara kekeluargaan, maka pintu forum itulah yang diketuk. Kita tidak memiliki tradisi sedikit-sedikit menghadap Raja untuk menyelesaikan segala persoalan.

Raja mengurusi bangsa dan negara – leluhur kita menghormati tugasnya seperti itu. Maka, jaranglah ada cerita-cerita rakyat di mana seorang Raja mesti turun tangan menyelesaikan kegaduhan yang sesungguhnya bisa diselesaikan oleh seorang yang dipertuakan di tingkat RT, RW dan sebagainya.

Urusan RT, RW, Kelurahan, Banjar, Forum Suka Duka atau apapun sebutannya juga bukan saja terkait dengan perlombaan, arisan, pesta dan sebagainya. Sejak dahulu kala, instansi-instansi tersebut dihormati sebagai Perwujudan dari Keadilan Gusti – dari Dharma, Kebaikan bagi Semua tanpa Pilih Kasih.

Terjemahan Bebas, atau lebih tepatnya, retelling dari sebuah cerpen dalam bahasa Hindi oleh Munshi Premchand (1880-1936) ini menjelaskan betapa mulianya instansi RW, RT, Banjar, Forum Suka-Duka dan sebagainya.

Dan, betapa agungnya tugas mereka yang dipercayai sebagai ketua dan anggota forum-forum atau instansi-instansi seperti itu.

Dengan mengesampingkan segala urusan pribadi, persahabatan dan lainnya, mereka tetap menjunjung tinggi kemanusiaan dan keadilan, kebenaran dan kebajikan.

Adapun cerpen ini diberi judul Pancha Parameshvara oleh penulisnya. Kita akan memahami baik arti kata, maupun signifikasi di baliknya lewat kisah berikut…

Kisah Ini tentang Jumman Shaikh dan Algu Chowdhry – dua orang sahabat yang lebih dekat dari saudara kandung. Kiranya dari nama mereka kita sudah bisa menerka bila kepercayaan mereka beda, adat-istiadat mereka banyak yang beda pula. Dan, demikian juga dengan cara mereka berpakaian… Bahkan, makanan mereka sehari-hari pun beda, yang satu makan daging, yang lain tidak.

Dari sudut pandang masyarakat yang lebih suka memperhatikan perbedaan, soal kepercayaan dan makanan itu sudah menjadi persoalan besar, perbedaan utama. Ditambah lagi dengan latar belakang pendidikan dan profesi mereka…

Orang tua Jumman mendidik anaknya untuk menjadi seorang pegawai negeri. Sementara itu, Algu adalah anak seorang pengusaha dengan pengetahuan yang pas-pasan, namun sangat sukses dalam usahanya. Harapan orang tua Algu hanya satu, kelak Algu dapat melanjutkan usahanya. Dan, harapan itu terpenuhi. Algu tidak hanya melanjutkan usaha orang tuanya, tetapi melakukan ekspansi yang cukup signifikan.

Segala Perbedaan itu tidak menghalangi persahabatan antara Jumman dan Algu. Tidak ada ego pengetahuan dalam diri Jumman, tiada pula keangkuhan seorang usahawan yang sukses dalam diri Algu.

Apa yang mempersatukan mereka? Apa yang menjadi perekat persahabatan mereka? Kemanusiaan. “Kita sama-sama manusia,” keyakinan pada kemanusiaan itulah yang menjadi perekat persahabatan mereka.

Baik Jumman maupun Algu yakin betul bila segala perbedaan antara mereka hanyalah urusan kulit, urusan luaran. “Kemanusiaan adalah anugerah Gusti yang tak terhingga, maka sebuah keniscayaan yang tak terelakkan,” demikian keyakinan mereka berdua.

Namun,Keyakinan pun Bisa Menjadi sebuah retorika, sekedar wacana saja, jika belum teruji. Rasanya, Keberadaan atau apa pun sebutan kita bagi-Nya, berkehendak untuk menguji keyakinan mereka berdua.

Jumman punya seorang bibi yang sudah lanjut usia. Ia memiliki sebidang tanah, tetapi tidak seorang pun ahli waris. Jumman adalah satu-satunya keluarga dekat.

Terpengaruh oleh Kariman, isterinya yang rada mata duitan, integrasi dan kejujuran Jumman melentur. Ia mendatangi bibinya dengan sebuah proposal bak sedang melakukan transaksi dagang, “Kami selalu memikirkan Tante yang tinggal di rumah sebesar ini sendirian, alangkah baiknya jika Tante tinggal bersama kami, di mana kami bisa mengurusi segala kebutuhan Tante…”

No Free Lunches – proposal Jumman pun bukan gratis. Di bawah pengaruh isterinya, Jumman sudah siap dengan akta peralihan kuasa terhadap tanah milik tantenya dengan alasan, “biar kami sewakan… Uang sewa itu sudah pasti lebih dari cukup untuk kebutuhan Tante sehari-hari.”

Si Tante, yang memang tidak mau menjadi beban bagi siapa-siapa, tidak mencium niat busuk Kariman, di mana peran Jumman hanyalah sebagai pelaksana.

Demikianlah pengaruh seorang pasangan, jika kita tidak berhati-hati memilih dengan memperhatikan bibit, bobot dan bebet – yakni benih atau latar belakang keluarga; kelayakan dalam segala hal; dan, berwibawa dan memiliki penampilan serta pembawaan yang bagus, tidak dibuat-buat, tidak munafik.

Jumman memiliki bibit, bobot dan bebet yang baik. Pergaulannya pun dengan orang-orang yang sama baiknya. Namun, pengaruh seorang pasangan ibarat setetes nila yang dapat merusak secawan susu.

Sesuai Rencana Busuk Mereka, awalnya sang Tante betul-betul diperhatikan. Segala kebutuhannya dipenuhi. Tapi, semua itu hanya sampai surat kepemilikan atas tanah milik Tante beralih menjadi milik Jumman. Dalam kurun waktu beberapa bulan saja, hidup sang Tante sudah menjadi neraka.

Misal, perkara makanan saja, Tante yang sudah tua dan tidak bisa makan sesuatu yang keras, terlampau pedas dan asam, sengaja disuguhi dal (lentil atau sejenis kacang-kacangan) setengah matang. Demikian pula dengan sayuran lainnya. Jika ia mengeluh, maka Kariman malah memarahinya, “Sudah bagus diberi makanan, dimasaki, dirawat… entah kapan matinya kau…”

Karena sudah tidak tahan lagi, akhirnya… “Nak Jumman, aku tidak bisa terus seperti ini. Lebih baik, aku diberi uang makan setiap bulan untuk mengatur makananku sendiri sesuai dengan usia dan kesehatanku.”

Jumman malah membalas dengan kasar, “Kau pikir kita punya pohon uang di sini? Hasil dari sebidang tanah tandus itu tidak cukup untuk mengurusi segala kebutuhan Tante selama ini. Sedikit-sedikit sakit ini, sakit itu, ke tabib, beli obat… belum lagi biaya-biaya lain.”

Si Tante Menyadari bila nasi sudah menjadi bubur. Tanah miliknya sudah pindah tangan. Ia tidak memiliki apa-apa lagi. Satu-satunya jalan yang masih terbuka adalah Pancha Parameshvara – Panchayat, instansi macam Rukun Warga Sedesa yang terdiri dari 5 orang yang diyakini sebagai wujud Keadilan. Parameshvara, Gusti Hyang Bersemayam dalam sanubari setiap makhluk, diyakininya akan mengambil keputusan yang adil.

“Jumman, sepertinya saya tidak punya pilihan lain kecuali menghadap Panchayat dan membawa urusan keluarga ini ke ranah umum,” sang Tante masih saja berharap bahwa Jumman akan menyadari kekeliruannya, dan ia tidak perlu menghadap Panchayat.

Namun, harapan tinggal harapan. Jumman malah tambah berang, “Ya, ya, silakan menghubungi Panchayat, supaya urusan ini bisa cepat beres. Aku pun tidak suka bertengkar setiap hari gara-gara makanan saja. Biar semuanya menjadi terang benderang.”

Sebelum Melanjutkan Kisah Ini, sedikit tentang Instansi Panchayat… Walau kita sebut instansi di atas, awalnya Panchayat bukanlah institusi yang baku atau memiliki masa kerja sekian tahun. Panchayat berupa Instansi macam Komite yang bersifat adhoc, lepasan dan dadakan, yang dibuat untuk urusan tertentu, dan dibubarkan setelah urusannya selesai.

Untuk itu, masing-masing pihak yang bertikai boleh menunjuk dua orang sebagai pembela, ditambah seorang yang berintegrasi, jujur dan adil. Orang kelima itulah yang bertindak sebagai Sarpanch atau Ketua Panchayat, Hakim Adhoc.

Nah, untuk memastikan bila seorang Sarpanch tidak terpengaruh oleh pihak yang bertikai maupun pembela mereka – maka ia dipilih secara aklamasi oleh pihak-pihak yang bertikai sebelum gelar perkara yang sekaligus akan mengambil keputusan demi Keadilan dan Kemanusiaan.

Pendek Cerita, saat gelar perkara di suatu sore… tapi, sebelumnya – sesuai dengan budaya luhur para leluhur, gelar perkara mesti diadakan di sore hari. Tidak boleh di pagi atau siang hari, karena teriknya matahari bisa mempengaruhi pikiran dan emosi pihak-pihak yang bertikai maupun pembela mereka.

Saat yang paling tepat untuk mengadakan pertemuan panchayat adalah di waktu sore setelah matahari terbenam. Rembulan, sinar bulan dipercayai mengandung soma, substansi yang dapat menenangkan pikiran secara alami – sehingga keputusan yang diambil oleh panchayat bisa lebih tepat dan sesuai dengan azas kemanusiaan dan keadilan.

Kembali ke cerita kita… Anggota Panchayat sudah siap, namun tiada seorang pun yang bersedia menjadi Sarpanch, Ketua Komite atau Sidang Adhoc tersebut. Pasalnya, tiada seorang pun yang ingin berurusan dengan Jumman setelah mendengar kisah sedih Tante tua yang terasa tidak membuat-buat dan secara jujur menyampaikan apa adanya.

Sementara itu, dari Gerak-Gerik para pembela, bahkan dari dua orang yang berpihak padanya, Jumman pun mulai merasakan adanya pergeseran opini. Mereka mulai bersimpati terhadap Tantenya.

Maka, ketika ada yang mengusulkan nama Algu sebagai Sarpanch, ia lega… “Seorang sahabat sudah pasti membelaku,” pikirnya.

Yang membuat para hadirin terkejut justru sikap sang Tante, “Saya meyakini Panchayat sebagai perpanjangan tangan Gusti. Saya akan menerima keputusan apa pun yang diberikan oleh Sarpancha. Jayalah Panch Parameshvara!”

“Yakin? Bukankah dia sahabat Jumman? Keadilan apa yang dapat diharapkan darinya?” Sang Tante sama sekali tidak terpengaruh oleh suara-suara tersebut. Bahkan ketika Algu sendiri menyatakan, “Tante, rasanya pilihan ini tidak tepat, Tante tahu persis hubungan saya dan Jumman seperti apa!”

Nak Algu, Saat Kau Duduk di kursi Sarpanch, kau adalah seorang adhyaksha – wakil dharma, wakil kebajikan dan keadilan. Aku percaya bila seorang adhyaksha, seorang wakil dharma akan selalu menjunjung tinggi azas keadilan dan kemanusiaan.” Keyakinan Tante tua itu sungguh luar biasa.

Maka, digelarlah sidang… Fakta menunjukkan bila sebidang tanah itu sudah dialihkan kepada Jumman. Tidak ada unsur paksaan yang terbukti. Si Tante tidak memiliki hak apapun atas tanah itu. Itu realita.

Bahwasanya si Tante dijanjikan biaya hidup, makan, minum, perawatan dan lainnya – tidak tertulis. Tidak ada bukti apa pun yang bisa memberatkan Jumman.

Namun, di balik semua fakta-fakta itu adalah kebenaran. Si Tante juga dikenal sebagai seorang wanita yang berintegritas. Tidak pernah menyusahkan orang lain. Tidak pernah menjadi beban bagi siapapun juga. Terungkap pula bila bukanlah si Tante yang mendatangi Jumman, tetapi Jumman yang mendatanginya. Ditambah lagi dengan sikap Kariman yang selalu ketus, tidak bersahabat terhadap siapapun juga, selalu berwajah terong busuk yang menyeramkan dan tak enak dipandang – maka tiada seorang pun di kampung itu yang dekat dengannya.

Setelah mempertimbangkan semuanya itu, juga memperhatikan suara kencang Jumman dan Kariman yang tidak pada tempatnya, bahkan sikap tidak sopan terhadap Tantenya, maka Algu memutuskan:

Jumman, Setelah Berunding dengan kawan-kawan yang menjadi anggota panchayat sore ini, maka demi keadilan kau memang harus membayar tunjangan bulanan kepada Tantemu, dan memastikan sikapmu dan isterimu terhadapnya berubah.”

“Jika tidak, maka sebidang tanah yang telah dia berikan kepadamu mesti dikembalikan, biarlah dia pindah ke tempatnya. Di desa kecil ini masih banyak warga yang peduli terhadap orang tua dan dapat mengurusinya, merawatnya.”

Mendengar keputusan itu, Jumman merasa dikhianati oleh Algu, oleh sahabatnya sendiri. Sementara, warga sekampung memuji Algu atas ketakberpihakannya, “Jayalah Sarpanch Algu, Jayalah Pancha Parameshvara, Jayalah Keadilan dan Kemanusiaan!!!”

Sesungguhnya, Algu pun terkejut dengan keputusannya. Ia pun terheran-heran, walau tidak terucap: ”Bagaimana saya bisa mengambil keputusan yang merugikan seorang sahabat?”

Sementara Itu, ada juga yang seolah menangkap getaran-getaran keraguan Algu dan berkomentar: “Inilah kemuliaan Panchayat. Siapapun yang menjadi bagian dari Pancha Parameshvara, apalagi diembani tugas sebagai Sarpanch sudah pasti mendengarkan Sabda Gusti yang berasal dari dalam dirinya sendiri. Itulah tuntutan Dharma, Kebajikan, Keadilan dan Kemanusiaan.

“Algu tidak hanya mendengarkan suara itu, tetapi mengindahkannya lewat keputusan yang adil. Persahabatan memang mulia, namun Kemanusiaan dan Keadilan adalah yang paling mulia. Dharma di atas segalanya.”

Mendengar komentar itu, Algu baru paham bila ia hanya nimitta-matra, hanyalah sebuah alat, sarana. Sesungguhnya, Dharma-lah yang membuat keputusan itu.

Ia Bergegas untuk Menghampiri Jumman… Melihat itu Jumman meninggalkan tempat… dan, itulah pertemuan mereka yang terakhir. Tali persahabatan sejak usia kecil terputus begitu saja… hanya karena urusan sebidang tanah, yang sesungguhnya bukan milik Jumman juga.

Jumman merasa sangat terganggu oleh, apa yang dianggapnya sebagai, pengkhianatan oleh seorang sahabat. Ia mencari-cari kesempatan untuk membalas dendam.

Dan, datanglah kesempatan itu, ketika terjadi pertikaian antara Algu dan seorang pedagang keliling bernama Samjhu.

Algu telah menjual seekor lembu kepada Samjhu dengan janji akan dibayar dalam waktu satu bulan. Algu memercayai Samjhu dan menyerahkan lembu miliknya tanpa adanya surat-menyurat atau hitam di atas putih.

Lewat Sebulan pun ketika Samjhu tidak kunjung datang untuk membayar, Algu mendatangi rumahnya… Sayang, ia malah diperlakukan sebagai tukang tagihan, seorang debt collector, “Tidak malu datang ke sini untuk menagih pembayaran? Lembu itu sudah mati. Baru satu bulan, dan….” demikian Samjhu dan isterinya secara bergantian mencaci-maki Algu seolah tertipu olehnya.

Mendengar suara-suara keras, para tetangga mulai berkumpul. Ada yang menyarankan, “Dari pada perang mulut seperti ini, kenapa tidak mengadakan Panchayat?”

Algu setuju… sementara itu, Samjhu mulai ketakutan. Ia tahu bila lembu itu mati karena keserakahannya. Setiap hari dia berjualan dari desa ke desa hingga tiga, bahkan empat kali perjalanan. Kereta yang dipakainya pun sesungguhnya mesti ditarik oleh dua ekor lembu, bukan seekor. Selain itu, ia pun tidak mengurusi makannya. Maka lembu itu mesti mencari apa saja di pinggir jalan untuk mengisi perutnya, termasuk berbagai macam sampah yang membuatnya sakit-sakitan.

Namun, Tidak Ada Jalan Lain pula… Panchayat ya panchayat. Untuk memperpendek cerita… ketika datang saat untuk menentukan Sarpanch, Sanjhu yang sudah tahu tentang hubungan antara Algu dan Jumman, mengusulkan nama Jumman.

Sesungguhnya, ia pun khawatir bila Algu menolak usulannya, tapi… “Saya ikut saja, saya setuju, Jumman sebagai Sarpanch.” Bukan saja Samjhu, banyak warga kampung yang terheran-heran, “Bukankah Jumman sudah berubah menjadi musuh bebuyutan? Keadilan apa yang dapat diharapkan dari dia?”

Algu tidak terpengaruh oleh suara-suara itu, “Seorang Sarpanch berada di atas permusuhan dan persahabatan. Saya yakin dan akan menerima keputusan Jumman, apapun yang diputuskannya.”

Kiranya Kita sudah Bisa Menerka akhir dari kisah ini. Berada di kursi Sarpanch, Jumman pun tidak bisa tidak berbuat adil dengan menjunjung tinggi nilai keadilan dan kemanusiaan. Dharma di atas segalanya.

Keputusannya yang berpihak pada Algu bukan saja membuat Samjhu tercengang, tetapi banyak warga yang selama itu menyaksikan bagaimana tali persahabatan antara Algu dan Jumman terputus karena kasus Tante Jumman.

Jumman menghampiri Algu dan sambil memeluknya, ia pun mengaku: “Kau betul, Algu, sahabatku, kursi Sarpanch memang kursi DharmaPanchayat adalah Wujud Parameshvara.”

“Maafkan aku dan isteriku….” demikian Algu dan Jumman yang terpisahkan karena Dharma dipertemukan kembali oleh Dharma juga.

Pertanyaannya: Apa iya, apa betul setiap Sarpanch dan Anggota Panchayat adalah seperti Jumman dan Algu? Sayang, beribu-ribu kali sayang, tidak semua Sarpanch, tidak semua anggota Panchayat bersikap seperti itu.

Ada yang terbawa oleh ego-status, ego-kedudukan dan kekuasaan; ada pun yang terpengaruh oleh para pembisik, yang biasa disebut “orang dekat”. Bahkan, lebih banyak lagi yang keputusannya bisa dibeli dengan fulus, duit, uang, atau apa sebutannya.

Lalu, apakah Munshi Premchand, penulis kisah ini, hidup di suatu masa di mana para Sarpanch dan anggota Panchayat betul-betul mendengarkan suara nurani mereka yang mewakili Sabda Gusti? Tidak juga. Saat itu pun banyak orang korup. Dan, korupsi bukanlah perkara uang saja. Adalah korupsi mental yang paling gawat.

Ketika seseorang termabukkan oleh kekuasaan, kedudukan dan sebagainya – maka keadilan dan kemanusiaan pun menjadi komoditas yang dapat diperjualbelikan.

Apa yang kita sebut miras merusak badan si konsumen, tetapi mabuk kuasa dan kedudukan, seorang bisa mencelakakan warga sekampung… semoga kita bisa memetik hikmah dari kisah ini…

 

Anand Krishna*)
* Seorang Humanis Spiritual, Anand Krishna adalah penulis lebih dari 180 judul buku, pendiri Anand Ashram, One Earth School, dan menginspirasi banyak lembaga serta kegiatan lain di bidang sosial, kesehatan holistik, pendidikan, dan lain sebagainya. Pembaca juga dapat mengakses videonya di 2 channel Youtube AnandKrishnaIndo dan AnandAshramIndonesia.