Apakah tujuan hidup? Lupakan keterkaitannya dengan spiritual. Tidak perlu membedakan antara hidup secara sekuler dan spiritual.

Tujuan hidup adalah kebahagiaan. Semua orang bertujuan agar menjadi bahagia. Kita pikir dengan bisa membeli mobil, kita bisa bahagia. Ketika kita bisa menikah dengan seseorang yang kita cintai, kita akan bahagia. Dan segala benda dunia yang kita harapkan bisa membuat kita bahagia, pada akhirnya semuanya tidak bisa membahagiakan kita. Kita berpikir bahwa rasa bahagia bisa diperoleh dari suatu benda.

Sesungguhnya kita tidak hanya mencari kebahagiaan, tetapi kebahagiaan yang abadi. Kebahagiaan yang tidak berakhir. Semua benda dunia yang kita anggap bisa membuat kita bahagia ternyata selalu berubah. Adakah satu bendapun di dalam ruang ini tidak berubah?.

Tidak ada satupun benda yang diciptakan oleh manusia bersifat abadi. Tidak satupun benda yang permanen. Dan kita pikir kita bisa memperoleh kebahagiaan permanen dari benda yang tidak permanen.

Kita hanya bisa memperoleh kebahagiaan permanen dari sesuatu yang juga bersifat permanen.

Mari kita berasumsi, pada kenyataannya semua teori ilmu pengetahuan juga berdasarkan suatu asumsi. Bahkan teori Big Bang yang dikemukakan oleh Stephen Hawking juga didasarkan atas asumsi. Demikian juga String Theory dan Quantum Mechanic. Siapa pernah melihat atom? Tidak satupun manusia bisa melihat atom. Semuanya hanya berdasarkan asumsi.

Para Yogi juga berasumsi bahwa ada sesuatu yang tetap abadi, bahkan ketika kita meninggal. Berdasarkan asumsi ini, mereka melakukan riset atau penelitian. Dari riset, semuanya dinegasikan. Ketika kita menyebutkan aku mempunyai badan, anda tidak mengatakan bahwa aku adalah badan yang berarti bahwa anda bukanlah badan.  Saya punya hidung, hidung bukan aku. Saya mempunyai otak, otak bukan diriku. Saya menggunakan pikiranku, pikiran bukanlah diriku. Para Yogi terus melakukan riset.

Dan pada akhirnya mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang bahkan namanya pun tidak diketahui akan terus eksis, tidak akan berakhir. Sesuatu yang disebut sebagai Diri Sejati, itulah Atma. Atma bukanlah Soul atau Jiwa. Atma adalah Diri. Dia akan tetap permanen. Dalam Yang satu itu kita satu adanya. Bagaimana menjelaskan hal ini?.

Seorang murid bertanya kepada sang master: ‘Bagaimana caranya melihat Atma?.

Sang Master berkata: ‘Bawakan satu ember air.’

Sang muridpun membawakan satu ember air. Kemudian sang master menuangkan satu gelas kecil garam, kemudian mengaduknya. Setelah tercampur rata, kemudian sang master berkata silakan cicipi rasanya, bagaimana rasa air tersebut di bagian atas ember, tengah-tengah ember dan di bagian bawahnya? Apakah rasanya asin?

Sang murid menjawab bahwa air di dalam ember tersebut rasanya asin entah itu di bagian atas, tengah-tengah ataupun di bagian bawahnya.  Asin seluruhnya.

“Lalu dimanakah garamnya?” tanya sang Master

“Garamnya ada di mana-mana, Master.” Jawab sang murid

Demikianlah juga Dia berada dimana-mana. Ada dalam diriku juga ada dalam dirimu, dan ada di setiap tempat di alam ini.

Itulah sebabnya Tat Tvam Asi – Itulah Dirimu. Garam yang ada di dalam ember itu juga ada di dalam dirimu. Dalam semua bentuk.  Dan bagaimana kita mengetahuinya?.

Karena anda sama asinnya dengan saya. Anda juga sama Ilahinya dengan saya. Dan sama buruknya dengan saya. Jika anda melakukan hal baik, saya juga demikian. Anda berbuat salah, saya pun begitu. Anda punya hidung, saya pun punya.

Tetapi kita akan melampaui perbedaan fisik.

Ada suatu esensi  yakni Daya Hidup atau Life Force. Mereka terus menggali dengan bertanya apa itu Life Force. Pada akhirnya mereka temukan bahwa terdapat satu prinsip yang sama dalam diri setiap orang, dan untuk menyadari hal itu adalah dengan menjadi penuh suka cita, Full of Joy. Menjadi Full of Ananda. Itulah tujuan satu-satunya dalam hidup.

Semuanya menuju ke arah penemuan, pencarian tersebut.  Ananda.

Artikel spiritual tentang kebahagiaan sejati tersebut diterjemahkan secara bebas dari Video Spiritual Anand Krishna yang berjudul “How to acquire Ananda, True Everlasting Happiness?” dalam bahasa Inggris.
Diterjemahkan secara bebas oleh Ir. Marhento