Warning: Module 'gd' already loaded in Unknown on line 0
[phpBB Debug] PHP Notice: in file /includes/session.php on line 885: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /common.php:177)
[phpBB Debug] PHP Notice: in file /includes/session.php on line 885: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /common.php:177)
[phpBB Debug] PHP Notice: in file /includes/session.php on line 885: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /common.php:177)
[phpBB Debug] PHP Notice: in file /includes/functions.php on line 3391: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /common.php:177)
[phpBB Debug] PHP Notice: in file /includes/functions.php on line 3393: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /common.php:177)
[phpBB Debug] PHP Notice: in file /includes/functions.php on line 3394: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /common.php:177)
[phpBB Debug] PHP Notice: in file /includes/functions.php on line 3395: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /common.php:177)
Anand Ashram Online • View topic - Anand Krishna: Guru Spiritual yang Tidak Jalan di Tempat

Anand Krishna: Guru Spiritual yang Tidak Jalan di Tempat

Forum ini bertujuan untuk memahami dan menerapkan meditasi dan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari serta kemudian memberi manfaat bagi masyarakat, negara dan dunia. Bisa dibahas dari berbagai sudut pandang, agama, tradisi, ritual dan sebagainya.

Anand Krishna: Guru Spiritual yang Tidak Jalan di Tempat

Postby Moderator on Wed Jan 23, 2008 11:00 am

Please scroll down for English Version

[BAHASA VERSION] ------------------------------------------------------------------------------------------

The Jakarta Post, 29 August 2006
Michele Lee (Contributor/Bali)

Saat saya duduk di keheningan Anand Krishna Center di Bali bersama bapak Anand Krishna sendiri adalah saat saya duduk bersama dengan salah satu pemimpin spiritual paling terkenal di Indonesia.

Diskusi dengan Anand Krishna malam sebelumnya sangat inspiratif sehingga Jakarta Post memutuskan untuk bertemu beliau dan berdiskusi lebih lanjut tentang kasih, agama, dan perdamaian.

Walaupun aksen India-nya cukup jelas, namun sesungguhnya beliau lahir di Surakarta, Jawa Tengah.

JP: Anda mengatakan dalam ceramah anda semalam bahwa Kasih, Cinta, adalah satu-satunya solusi. Mengapa demikian?

Anand Krishna: Saya katakan bahwa cinta adalah emosi terdalam di diri seorang manusia. Jika solusinya berasal dari yang terdalam, maka hasilnya pun menjadi jangka panjang.

Seperti sebuah pohon. Jika akar pohon itu tumbuh menunjang ke dalam bumi, maka kita akan memiliki pohon yang besar. Sama seperti itu; kita harus memiliki solusi yang berasal dari dalam diri, sehingga kita dapat mengharapkan hasil yang jangka panjang.

Metafora tersebut indah sekali. Bapak juga mengatakan bahwa saat kita mempraktekkan kesadaran, itulah yang disebut cinta. Apakah Anda memiliki saran bagaimana supaya kita dapat menjadi lebih sadar dalam hidup kita?

Di Bali terutama, kita memiliki tradisi indah yang mempersembahkan diri kita kepada lingkungan, manusia yang lain, dan Tuhan.

Menurut saya, Cinta adalah kata generik untuk Tuhan. Jika kita menyadarinya, maka kita berada dalam kondisi sadar. Kita sadar akan lingkungan kita dan apapun yang kita lakukan.

Cara kita duduk. Cara kita berperilaku. Cara kita bercakap-cakap dan berinteraksi dengan masyarakat. Kesadaran tidaklah dicapai dari satu jam meditasi sehari. Kesadaran adalah pekerjaan full-time, penuh-waktu.

Kesadaran adalah bagaimana kita menerapkan meditasi dalam kehidupan sehari-hari - dari waktu ke waktu. Kesadaran juga berarti pentingnya merelakan satu anggota badan untuk menyelamatkan seluruh badan kita.

Jadi, sebagaimana Anda katakan, merelakan sebagian anggota tubuh kita adalah sebuah bentuk pengorbanan. Apakah ini berarti anda merasa bahwa pengorbanan itu perlu?

Saya pikir begitu. Setiap menit, setiap saat dalam hidup, kita selalu berkorban. Kita mengorbankan hal-hal yang kita pikir tidak memiliki nilai lebih. Jika kita memiliki visi yang lebih baik, maka kita akan otomatis melepaskan visi yang lebih kecil, yang tidak lagi ada urusannya dengan kita. Jadi sesungguhnya tiap saat kita melakukan pengorbanan.

Cukup menarik mendengarkan pendapat Anda tentang Gandhi. Semalam Anda katakan bahwa Anda tidak setuju dengan metode berpuasa Gandhi karena itu sebenarnya menyakiti dirinya sendiri. Padahal cinta itu bukan soal menyakiti diri sendiri. Jadi menurut Anda, adakah cara yang lebih baik untuk mencapai perdamaian?

Tingkatkan kesadaran. Inilah yang menyebabkan saya akhir-akhir ini mengagumi Martin Luther King. Walaupun dia mengagumi Gandhi, Martin Luther King tidak menggunakan metode-metode Gandhi. Luther King akan turun ke jalan dan menyampaikan pendapatnya secara jelas. Dia akan membiarkan dirinya dipenjarakan. Namun dia tidak akan melawan balik atau membalas dendam.

Itulah cara yang menurut saya baik. Kita menyampaikan pendapat kita dengan jelas, berfokus pada kesadaran, dan kita membuat masyarakat mengerti mengapa kita melakukan hal-hal tersebut. Inilah yang saya coba lakukan... berusaha menggabungkan dua Manusia Besar tersebut - Gandhi dan Martin Luther King.

Inilah yang diperlukan oleh Indonesia dalam misi untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kita adalah sebuah bangsa yang besar. Dahulu kala kita mengekspor rempah-rempah ke Madagaskar dan Afrika, dengan menggunakan armada kapal sendiri.

Menghilang ke manakah keagungan tersebut? Keagungan tersebut masihlah ada di dalam diri kita. Mengapa kita harus mengadopsi suatu hal yang tidak sesuai dengan negara ini?

Saat ini saya lihat sebagian orang Indonesia mengadopsi nilai-nilai Barat, yang sebenarnya cukup baik juga. Saya tidak ada masalah dengan hal tersebut. Namun, mungkin tidak semua budaya Barat sesuai dengan negara ini.

Di lain pihak, sebagian dari masyarakat Indonesia mengadaptasi cara hidup Arab. Hal ini akan menciptakan dua masyarakat dalam satu negara, yang tidak baik karena akan mengundang konflik, pertengkaran, dan perang di negara kita.

Pandangan Anda tentang agama sangatlah menarik. Seperti yang Anda katakan, kita memiliki begitu banyak agama. Buddha, Kristen, Hindu, Islam, dan sebagainya. Namun Anda merasa bahwa kita dapat bersatu bersama, karena walaupun cara mengagungkan Tuhan berbeda, tetaplah ada satu Tuhan dan satu Kebenaran yang kita berusaha raih dan sadari.

Bagaimana cara mengatasi prasangka-prasangka tentang agama dan menjadi lebih terbuka dan tidak berpikiran sempit tentang konsep ketuhanan?

Makanya saya lebih senang menggunakan kata 'cinta', karena jika kita bicara tentang cinta, kita memang bicara cinta. Kita bahkan bisa menerima ide-ide dari orang yang tidak percaya Tuhan.

Ada seorang Sufi yang bertemu seseorang lain. Orang ini berkata, "Saya tidak percaya Tuhan." Sang Sufi bertanya, "Apakah anda percaya pada diri sendiri?" Orang tersebut menjawab, "Ya, tentu saja."

Selama kita percaya akan sesuatu - apapun itu, bisa Tuhan, bisa cinta, bisa diri sendiri... Dalam tradisi India, Tuhan adalah perwujudan diri kita yang lebih tinggi. Kesadaran tentang cinta inilah yang harus kita wujudkan.

Mungkin banyak orang yang berpikiran, "Saya tidak ada urusan dengan Tuhan." Tapi pasti kita semua ada urusannya dengan cinta.

Jadi, walaupun berabad-abad kita sudah berusaha melakukan dialog antar-agama, khususnya antara umat Kristen dan Islam sejak 2,000 tahun yang lalu, kita tetap jalan di tempat karena kita bicara tentang Tuhan - yang tidak pernah muncul di hadapan kita.

Ketika seorang Kristen mencintai seorang Muslim, atau saat seorang Buddha mencintai seorang Hindu, atau seorang Hindu mencintai seorang Muslim, dan saat mereka sungguh-sungguh saling mencintai - hanya dua insan yang saling mencintai - maka mereka melupakan seluruh rintangan yang ada.

Daripada bicara tentang Tuhan - yang menurut saya tidak tepat - marilah kita bicara tentang cinta.

Begitu kita bicara cinta, begitu kita mengembangkan rasa kesatuan dengan seluruh umat manusia, maka saat itulah Tuhan berwujud. Saat itulah semua masalah menghilang.

(terjemahan oleh Icha)

[ENGLISH VERSION] ------------------------------------------------------------------------------------------

Anand Krishna: No run-of-the-mill spiritual guru

Michele Lee, American Journalist Interviews Anand Krishna for Jakarta Post

THE JAKARTA POST Features - August 29, 2006

Michele Lee (American Journalist)- Contributor, Bali

To sit in the cool tranquil space of the new Anand Krishna center in Bali with the man himself is to be in the company of one of the most renowned spiritual leaders in Indonesia.

His talk the night before had been inspirational so The Jakarta Post took the opportunity to meet him to explore further his beliefs about love, religion and peace.

His Indian accent was undeniable, yet he was born and raised in Surakarta, Indonesia.

JP: You said last night in your talk that love is the only solution. Why is it the only solution?

Anand Krishna: I would say that love is the deepest emotion in human beings. It is the deepest part of our inner selves. When the solution is deep enough, then the result is also quite long-term.

It's just like when you have a tree. If the roots grow deep into the earth, then you will have a big tree. So this is the same thing, we should have a solution that is deep within our being and then we can expect a result which is long term.

That's a beautiful metaphor. You also said that when we practice consciousness, this is love. Do you have any suggestions as to how we can become more conscious in our lives?

In Bali, especially, they have a beautiful tradition of dedicating oneself to the environment, to another human being and to God.

I would say that the generic word for God is love. When you do that you are being conscious. You are being conscious of your environment and you are being conscious of anything that you do.

How you sit. How you behave. How you converse with people and interact with them. Consciousness is not something that you can achieve from an hour of meditation every day; it's a full-time job.

It's how you practice meditation in your daily life -- from moment to moment. And consciousness also means that it is important to let go of a part of your body in order to save the rest of your body.

So, to let go of part of your body as you say, is a form of sacrifice. So you do feel that there must be some sacrifices made?

I think so. We are sacrificing every minute, every moment actually. We are sacrificing certain things which we feel have lesser value. If you have a better vision, then you let go of the smaller vision of the vision that you no longer have anything to do with now. So actually we are sacrificing every moment.

It was quite enjoyable to hear your views on Gandhi. You said last night that you didn't agree with his methods of fasting because that was a form of hurting himself and love is not about hurting yourself. What do you think, then, is a better way to achieve peace?

Bring about awareness. This is why I started admiring Martin Luther King recently. He was so inspired by Gandhi but he didn't use Gandhi's methods. He would go into the street and make his point clear; he would let himself be imprisoned, but he wouldn't fight back or retaliate.

This is the way, I think. You make your point clear and you think about awareness and you make people aware of the cause you are fighting for. This is exactly what I'm trying to do ... trying to put these two great people together -- Gandhi and Martin Luther King.

This is what is needed in Indonesia to bring about awareness that we are a great nation. Once upon a time we used to export spices to Madagascar and Africa. We used our own ships.

So where is that greatness? That greatness is still there within us. Why do we have to adopt something that is not suitable for us?

What I see in Indonesia is that one part of Indonesia is adapting to the Western way of life, which is quite good; I don't have any problem with this, but the whole culture from the West may not be suitable for this country.

The other part of Indonesia is adapting to the Arabic way of life and this is going to create two societies within one. That's not good because we will bring the fights, the battles and the wars to our side -- to our country.

Your views on religion are very interesting. As you said, we all have many different religions, such as Buddhism, Christianity, Hinduism, Islam, etc, but you feel that we can all come together, because even though we may all have different methods of worshiping God, there is still that one God and one truth that we are all trying to realize.

How can we overcome our prejudices about religion and become more open and less narrow-minded about the whole concept of what God is?

That's why I like to use the word love, because when you speak of love you talk about love. You can even accept the ideas of those who don't believe in God.

There was a Sufi who met someone who said, "I don't believe in God." The Sufi asked him, "Do you believe in yourself?" The man said, "Yes, I do."

As long as you believe in something -- that something can be God, love, or self. In the Indian tradition God is your higher self -- so I think we have to create this awareness about love.

There are many people who may think to themselves, "I have nothing to do with God." But all of us have got something to do with love.

So the state of creating a dialog between religions, what has been done especially by Christians and Muslims for the last 2,000 years, has been going on for centuries, yet we are heading nowhere because they are talking about God, yet God is not appearing before us.

When a Christian loves a Muslim or a Buddhist loves a Hindu or a Hindu loves a Muslim and if they are really deeply in love -- just two human beings, then they forget about all these barriers.

Instead of talking about God -- this is wrong I think -- let's talk about love.

Once you talk about love and you develop that feeling of oneness with each other then God is present; then you will have no problems at all.
Moderator
Site Admin
 
Posts: 137
Joined: Fri Jul 14, 2006 3:40 pm
Location: Jakarta

Re: Anand Krishna: Guru Spiritual yang Tidak Jalan di Tempat

Postby kukaizen on Sat Aug 09, 2008 7:01 pm

semoga saya suatu saat bisa bertemu dan belajar langsung dengan bpk anand krisna
saat ini baru baca baca bukunya, belum semua nya sih :D
NGLURUG TANPO BOLO, SAKTI TANPO PUSOKO
kukaizen
 
Posts: 12
Joined: Sat Aug 09, 2008 6:49 pm


Return to Gaya Hidup Berkesadaran

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest

cron

Fatal error: Not able to open ./cache/data_global.php in /home/sloki/user/t12983/sites/anandkrishna.org/www/phpBB3/includes/acm/acm_file.php on line 106