ONLINE SERVICES
Anand Krishna on FB
Anand Krishna's FB Network
Anand Krishna Mailing List

 
AFFILIATE WITH
 

 

 



 

SABDA PENCERAHAN

Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern

Menghadapi paradoks - itulah para sufi, buddha, avatar, kristus, dan pengembara rohani yang telah mencapai pencerahan. Karena itu, tak heran kalau kata-kata mereka juga penuh paradoks.

Khotbah Yesus di Bukit adalah cermin Puncak Kesadaran yang bisa dicapai oleh manusia dalam kelananya menjelajahi kehidupan ini: Tiada khawatir akan sesuatu pun, tiada tertipu oleh segala sesuatu yang serba semu, karena kesadarannya tajam memandang kesejatian dalam paradoks-paradoks kehidupan. Dan karena itu, sabda-Nya penuh kuasa, bahkan ketika Dia merombak tradisi dan pandangan lama.

Dengarkan Sabda Pencerahan di Atas Bukit, maka relung-relung gelap hati kita akan dipenuhi dengan Cahaya-Nya!


RESENSI BUKU

SUARA PEMBARUAN
Rabu 2 September 1998

RESENSI BUKU

Menyelami Paradoks Kehidupan

Judul : Sabda Pencerahan: Ulasan Khotbah
Yesus di Atas Bukit
Penulis : Anand Krishna
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1998
Tebal : viii + 160 halaman
Harga : Rp 16.000

Anand Krishna -penulis buku ini- mengaku bukan orang Kristen, apalagi pendeta atau pastor. Namun, ia punya pengalaman yang menyadarkan bahwa keputusasaan bukanlah akhir dari segalanya sebab Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia.

Ia pun lalu sibuk melakukan pencarian akan kesejatian hidup, termasuk membimbing orang-orang yang memiliki tujuan sama. Maka tidaklah salah kalau ia pun mengaku sangat mencintai Yesus, yang telah dikenalnya sejak kecil lewat sekolah dan buku-buku.
Mencintai Yesus, dalam pola pikir Anand sewaktu kecil tidak lebih dari membuat Yesus ketawa. ''Saya akan menghapuskan air mata dari mataNya. Saya tidak akan pernah membuatNya sedih. Saya ingin Dia selalu gembira.

Saya tidak akan memberikan alasan bagi Dia untuk menderita karena saya'' (halaman 12). Janji sederhana ini bukannya tanpa alasan. Pasalnya, ketika ia pernah bertanya kepada ibu asuhnya mengapa gambar-gambar Yesus selalu menampakkan keseriusan atau kesedihan, ia beroleh jawaban bahwa Yesus sedih karena melihat penderitaan kita.

Kesaksian

Kesaksian, barangkali merupakan julukan yang tepat untuk karya ini. Sebab penulisnya memang mencoba untuk mengulas isi khotbah Yesus di atas bukit (Matius fasal 5-7) dengan memasukkannya ke dalam kenyataan kehidupan modern.

Dikatakan bahwa khotbah Yesus yang satu ini tidak terlalu populer di tingkat massa. Alasannya, saat itu Yesus memang tidak dalam kerangka mencari umat. Ia justru menghindari massa dengan naik ke atas bukit.

Sehingga, hanya mereka yang benar-benar mencintai Yesus -kelak disebut para murid- yang mengikutinya. Sementara, mereka yang hanya ingin melihat mukjizat atau mengharapkan sesuatu sudah bubar sebelumnya.

Sangat jelas, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa khotbah Yesus hanya dapat diresapi dalam ketenangan batin yang tinggi.

Buku ini menjadi lain, karena untuk meresapi isinya tidak bisa hanya dibaca sepintas lalu atau sekali baca. Pencerahan baru akan didapat bila kita membacanya dengan tingkat kesadaran yang tinggi. Artinya, mengalihkan kesadaran kita dari dunia benda ke dunia batiniah.

Kesaksian yang dikemas dalam karya kreatif seperti ini memang tergolong langka di Indonesia. Sebutlah salah satunya, Arswendo Atmowiloto yang menelurkan sejumlah kesaksian dalam rupa karya kreatif, justru setelah keluar dari penjara dalam Sebutir Mangga di Halaman Gereja, Berserah Itu Indah, serta Khotbah di Penjara: Ajari Kami Menghitung Hari.

Alasan yang mendasari lahirnya karya-karya itu umumnya sama, yakni merasakan kehadiranNya yang begitu nyata dalam keadaan tak menentu, yang begitu teraba dan terasa pada saat-saat yang justru seperti kehilangan kepekaan.

Ulasan Dan Kritik

Tidaklah mengherankan bila dalam pembahasan perikop ''Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi'' misalnya, pendiri padepokan Anand Ashram ini mampu secara luas mengulasnya. Antara lain dikatakan bahwa memiliki bumi tidak berarti menjadi penguasa bumi. Mereka yang berotot, yang punya harta, yang
memiliki kedudukan, yang kita anggap orang kuat, sebenarnya sangat lemah.

Mereka tidak memiliki sesuatu yang sangat membahagiakan. Itu sebabnya, mereka melewatkan hidup sambil kejar-mengejar (halaman 26). Jika kita tarik lebih membumi, siapa pernah menyangka Korea yang begitu mantap perekonomiannya, bisa juga terguncang oleh krisis ekonomi. Pun, tak pernah ada yang mengira Soeharto yang begitu kuat di negeri ini, goyah oleh ulah mahasiswa.

Ulasan lain yang terasa cukup menarik di masa krisis ini adalah dalam hal memberi sedekah (Matius 6: 1-4). Lewat sejumlah ilustrasi, penulis hendak menyampaikan bahwa sewaktu ingin memberi, jangan banyak berpikir. Sewaktu membantu orang jangan melakukan terlalu banyak pertimbangan.

Mengambil waktu banyak sebelum bertindak, dapat mengubah pikiran Anda (halaman 82). Tetapi, itulah yang ternyata masih banyak kita lakukan. Kita selalu mencari pembenaran atas tindakan kita. Terhadap seseorang yang sedang meminta-minta, kita sering berapologi ''Lihat dia, masih muda, masih tegar, tidak mau kerja keras, malah minta-minta lagi.'' Berterus terang saja, ''Saya tidak ingin memberi.'' Cukup! (halaman 84).

Makanya, dengan lugas penulis mengkritik sikap kemunafikan yang tidak sejalan dengan sabda Yesus itu, misalnya memberi sumbangan tetapi harus ditayangkan di televisi, seperti yang terjadi di awal-awal krisis dulu.

Kebiasaan seperti ini boleh dikata sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Sama halnya dengan kebiasaan mengaduk-aduk unsur SARA untuk mengadu domba manusia. Hal ini hanyalah menunjukkan ketololan manusia, sebab nyatanya tak pernah ada seorang nabi pun yang mencela para nabi sebelumnya.

Buku ini menarik untuk dibaca karena dengan posisi Anand Krishna yang ''di luar'' masyarakat Kristiani, kadangkala memungkinkan dia untuk melontarkan satu-dua kritik terhadap perilaku kita, baik sebagai umat maupun sebagai pemuka agama.

Jadi, paling tidak karya kreatif ini bisa menjadi cermin bagi kita semua, memberi pencerahan -sebagaimana judulnya- karena rencana Allah sungguh tak terjangkau oleh rencana dan pikiran manusia.

- A. Ariobimo Nusantara

 
 



INFORMATION
Pemesanan melalui Roy/Vivi di 087-877-262-688 (rbeff@cbn.net.id)

Buku-buku karya Bapak Anand Krishna telah beredar kembali setelah mengalami penarikan dari toko-toko buku

[more]

Comments

When we see all the conflicts around us, we cannot but appreciate Anand's view.

Abdurrahman Wahid (Fourth President of the Republic of Indonesia)

He is so deeply concerned to present religion as one binding force, soothing and refreshing to human soul.

Nasaruddin Umar
(Vice Chancellor of a National University)

My best regards to Anand Krishna the one who always gives spiritual inspiration to humanity for peace, tolerance, and understanding.

Prof. Ahmad Syafii Maarif, Ph.D.
(a prominent Indonesian intellectual, the founder of Maarif Institute)

Anand has no theological or historical burden to appreciate all great religions of the world. He comes from the source of all wisdom.

Komaruddin Hidayat
(Professor)

Memuji jiwa kepatriotisan dan nasionalisme yang ada di dalam diri Anand Krishna.

Letjen Purnawirawan Hendro Priyono
(Mantan Kepala BIN)

When you decide to purchase your next book, make it this one. "Voice of Indonesia" is a "must-read".

Kerry B. Collison
(International best-selling author)

Hello Anand Krishna,
I am much enjoying your book Jesus of Kashmiris which I ordered.

Paul Davids, Producer of JESUS IN INDIA

Although we had so little time to talk... I remember our meeting so well. This is because of the special mesmerising quality you have, which comes from your heart. We are Asians, so you will know that I am speaking of a resonance that is particularly Asian.

Margaret Chan, Asst. Professor: Theater/Performance Studies School Social Sciences, Singapore Management University

It is a great contribution you have been making to Indonesia and Indonesian. Sindh is poorer for not having been mindful in fully heeding the (sufi) message, but out the tragedy, the world is richer because of the contributions of people like you have made in distant lands.

Professor Gul Agha, USA

Anand Krishna yang judul bukunya Shambala saya petik menjadi judul komposisi salah satu tembang dalam Samsara.

Dewa Budjana
(Musisi)

More comments...

ANAND ASHRAM: Jl. Sunter Mas Barat II-E, Block H-10/1, Jakarta 14350 - Indonesia
Phone: 021-6508648, 0818-701658, 0818-163391 | Fax: 021-6503459 | E-Mail: info@anandkrishna.org


Anand Krishna Global Cooperation