SABDA PENCERAHAN
Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern
Menghadapi paradoks
- itulah para sufi, buddha, avatar, kristus, dan pengembara rohani yang telah
mencapai pencerahan. Karena itu, tak heran kalau kata-kata mereka juga penuh
paradoks.
Khotbah Yesus di
Bukit adalah cermin Puncak Kesadaran yang bisa dicapai oleh manusia dalam kelananya
menjelajahi kehidupan ini: Tiada khawatir akan sesuatu pun, tiada tertipu oleh
segala sesuatu yang serba semu, karena kesadarannya tajam memandang kesejatian
dalam paradoks-paradoks kehidupan. Dan karena itu, sabda-Nya penuh kuasa, bahkan
ketika Dia merombak tradisi dan pandangan lama.
Dengarkan Sabda
Pencerahan di Atas Bukit, maka relung-relung gelap hati kita akan dipenuhi dengan
Cahaya-Nya!
RESENSI BUKU
SUARA PEMBARUAN
Rabu 2 September 1998
RESENSI BUKU
Menyelami Paradoks Kehidupan
Judul : Sabda Pencerahan: Ulasan Khotbah
Yesus di Atas Bukit
Penulis : Anand Krishna
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1998
Tebal : viii + 160 halaman
Harga : Rp 16.000
Anand Krishna -penulis buku ini- mengaku bukan orang Kristen, apalagi pendeta
atau pastor. Namun, ia punya pengalaman yang menyadarkan bahwa keputusasaan
bukanlah akhir dari segalanya sebab Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia.
Ia pun lalu sibuk melakukan pencarian akan kesejatian hidup, termasuk membimbing
orang-orang yang memiliki tujuan sama. Maka tidaklah salah kalau ia pun mengaku
sangat mencintai Yesus, yang telah dikenalnya sejak kecil lewat sekolah dan
buku-buku.
Mencintai Yesus, dalam pola pikir Anand sewaktu kecil tidak lebih dari membuat
Yesus ketawa. ''Saya akan menghapuskan air mata dari mataNya. Saya tidak akan
pernah membuatNya sedih. Saya ingin Dia selalu gembira.
Saya tidak akan memberikan alasan bagi Dia untuk menderita karena saya'' (halaman
12). Janji sederhana ini bukannya tanpa alasan. Pasalnya, ketika ia pernah bertanya
kepada ibu asuhnya mengapa gambar-gambar Yesus selalu menampakkan keseriusan
atau kesedihan, ia beroleh jawaban bahwa Yesus sedih karena melihat penderitaan
kita.
Kesaksian
Kesaksian, barangkali merupakan julukan yang tepat untuk karya ini. Sebab penulisnya
memang mencoba untuk mengulas isi khotbah Yesus di atas bukit (Matius fasal
5-7) dengan memasukkannya ke dalam kenyataan kehidupan modern.
Dikatakan bahwa khotbah Yesus yang satu ini tidak terlalu populer di tingkat
massa. Alasannya, saat itu Yesus memang tidak dalam kerangka mencari umat. Ia
justru menghindari massa dengan naik ke atas bukit.
Sehingga, hanya mereka yang benar-benar mencintai Yesus -kelak disebut para
murid- yang mengikutinya. Sementara, mereka yang hanya ingin melihat mukjizat
atau mengharapkan sesuatu sudah bubar sebelumnya.
Sangat jelas, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa khotbah Yesus hanya
dapat diresapi dalam ketenangan batin yang tinggi.
Buku ini menjadi lain, karena untuk meresapi isinya tidak bisa hanya dibaca
sepintas lalu atau sekali baca. Pencerahan baru akan didapat bila kita membacanya
dengan tingkat kesadaran yang tinggi. Artinya, mengalihkan kesadaran kita dari
dunia benda ke dunia batiniah.
Kesaksian yang dikemas dalam karya kreatif seperti ini memang tergolong langka
di Indonesia. Sebutlah salah satunya, Arswendo Atmowiloto yang menelurkan sejumlah
kesaksian dalam rupa karya kreatif, justru setelah keluar dari penjara dalam
Sebutir Mangga di Halaman Gereja, Berserah Itu Indah, serta Khotbah di Penjara:
Ajari Kami Menghitung Hari.
Alasan yang mendasari lahirnya karya-karya itu umumnya sama, yakni merasakan
kehadiranNya yang begitu nyata dalam keadaan tak menentu, yang begitu teraba
dan terasa pada saat-saat yang justru seperti kehilangan kepekaan.
Ulasan Dan Kritik
Tidaklah mengherankan bila dalam pembahasan perikop ''Berbahagialah orang yang
lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi'' misalnya, pendiri padepokan
Anand Ashram ini mampu secara luas mengulasnya. Antara lain dikatakan bahwa
memiliki bumi tidak berarti menjadi penguasa bumi. Mereka yang berotot, yang
punya harta, yang
memiliki kedudukan, yang kita anggap orang kuat, sebenarnya sangat lemah.
Mereka tidak memiliki sesuatu yang sangat membahagiakan. Itu sebabnya, mereka
melewatkan hidup sambil kejar-mengejar (halaman 26). Jika kita tarik lebih membumi,
siapa pernah menyangka Korea yang begitu mantap perekonomiannya, bisa juga terguncang
oleh krisis ekonomi. Pun, tak pernah ada yang mengira Soeharto yang begitu kuat
di negeri ini, goyah oleh ulah mahasiswa.
Ulasan lain yang terasa cukup menarik di masa krisis ini adalah dalam hal memberi
sedekah (Matius 6: 1-4). Lewat sejumlah ilustrasi, penulis hendak menyampaikan
bahwa sewaktu ingin memberi, jangan banyak berpikir. Sewaktu membantu orang
jangan melakukan terlalu banyak pertimbangan.
Mengambil waktu banyak sebelum bertindak, dapat mengubah pikiran Anda (halaman
82). Tetapi, itulah yang ternyata masih banyak kita lakukan. Kita selalu mencari
pembenaran atas tindakan kita. Terhadap seseorang yang sedang meminta-minta,
kita sering berapologi ''Lihat dia, masih muda, masih tegar, tidak mau kerja
keras, malah minta-minta lagi.'' Berterus terang saja, ''Saya tidak ingin memberi.''
Cukup! (halaman 84).
Makanya, dengan lugas penulis mengkritik sikap kemunafikan yang tidak sejalan
dengan sabda Yesus itu, misalnya memberi sumbangan tetapi harus ditayangkan
di televisi, seperti yang terjadi di awal-awal krisis dulu.
Kebiasaan seperti ini boleh dikata sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Sama halnya dengan kebiasaan mengaduk-aduk unsur SARA untuk mengadu domba manusia.
Hal ini hanyalah menunjukkan ketololan manusia, sebab nyatanya tak pernah ada
seorang nabi pun yang mencela para nabi sebelumnya.
Buku ini menarik untuk dibaca karena dengan posisi Anand Krishna yang ''di
luar'' masyarakat Kristiani, kadangkala memungkinkan dia untuk melontarkan satu-dua
kritik terhadap perilaku kita, baik sebagai umat maupun sebagai pemuka agama.
Jadi, paling tidak karya kreatif ini bisa menjadi cermin bagi kita semua, memberi
pencerahan -sebagaimana judulnya- karena rencana Allah sungguh tak terjangkau
oleh rencana dan pikiran manusia.
- A. Ariobimo Nusantara
|